Friday, 4 January 2013
Tutorial Lampung : Busana Adat Penganten Lampung
Tutorial Lampung : Busana Adat Penganten Lampung: Di propinsi lampung banyak sekali terdapat keanekaragaman budaya, adat istiadat, tempat rekreasi , keanekaragam bahasa,pakaian adat ...
Tutorial Lampung : Adat Lampung Nyambai
Tutorial Lampung : Adat Lampung Nyambai: Banyak Adat Lampung yang dari jaman nenek moyang hingga sekarang yang masih dilaksanakan namun ada juga adat lampung tersebut yang mulai ...
Tugas Sekolah - Karya Tulis - Materi Pelajaran - Soal, Pembahasan dan Prediksi - Download Gratis: Tradisi dan Budaya Adat Lampung
Tugas Sekolah - Karya Tulis - Materi Pelajaran - Soal, Pembahasan dan Prediksi - Download Gratis: Tradisi dan Budaya Adat Lampung: Tradisi dan Budaya Adat Lampung Lampung merupakan salah satu daerah di Indonesia yang juga kaya akan tradisi dan adat budaya. Banyak ...
ulun lampung: Sekilas tentang Adat Lampung
ulun lampung: Sekilas tentang Adat Lampung: -- Haji Munawarah TULISAN ini kutujukan untuk beberapa teman korespondenku yg sedikit-banyak ingin mengetahui tentang adat lampung. Kuambi...
TenTang LamPung: adat lampung
TenTang LamPung: adat lampung: nahh,,,ini dia tentang adat lampung Upacara adat yang masih dilestarikan : Upacara Kuruk Limau : Upacara tujuh bulanan Upacara Becukor: ...
Wednesday, 2 January 2013
Public Universite: Komunisme dan Pan-Islamisme
Public Universite: Komunisme dan Pan-Islamisme: Tan Malaka (1922) Penerjemah: Ted Sprague, Agustus 2009 Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Ta...
Public Universite: Sejarah Logika
Public Universite: Sejarah Logika: Masa Yunani Kuno Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul,...
Public Universite: Dasar-dasar Logika Algoritma
Public Universite: Dasar-dasar Logika Algoritma: Sebelum mempelajari bahasa pemograman, alangkah baiknya kita pahami dulu suatu ilmu yang bernama Logika Algoritma. Algoritma adalah uruta...
Sunday, 30 December 2012
TAN MALAKA (1926) – Aksi Massa BAB XII
KHAYALAN SEORANG REVOLUSIONER
Sebuah tugas yang berat tapi suci,
sekarang dipikulkan di atas bahu setiap orang Indonesia untuk memerdekakan 55
juta jiwa dari perbudakan yang beratus-ratus tahun lamanya, dan memimpin mereka
ke pintu gerbang hidup baru.
Zaman yang lalu, zaman penjajahan Hindu
dan Islam serta zaman "kesaktian" yang gelap itu, tak dapat menolong
kita sedikit pun. Marilah sekarang kita bangun termbok baja antara zaman dulu
dan zaman depan, dan jangan sekali-kali melihat ke belakang dan mencoba-coba
mempergunakan tenaga purbakala itu untuk mendorongkan masyarakat yang
berbahagia. Marilah kita pergunakan pikiran yang "rasional" sebab
pengetahuan dan cara berpikir yang begitu adalah tingkatan tertinggi dalam
peradaban manusia dan tingkatan pertama buat zaman depan. Cara berpikir yang
rasional membawa kita kepada penguasaan atas sumber daya alam yang mendatangkan
manfaat, dan pemakaian yang benar — kepada cara pemakaian itu makin lama makin
bergantung nasib manusia. Hanya cara berpikir dan bekerja yang rasional yang
dapat membawa manusia dari ketakhayulan, kelaparan, wabah penyakit dan
perbudakan, menuju kepada kebenaran.
Kita sangat menjunjung tinggi kesaktian
dan adat istiadat serta kebenaran bangsa Timur. Akan tetapi semuanya itu
tidaklah mendatangkan pencerahan, kemauan kepada peradaban dan kemajuan,
cita-cita tentang masyarakat yang baik, tinggi, bagus, serta tidak pula
mendatangkan yang baik di dalam sejarah dunia. Pujilah kepintaran Timur sang
pemilik batinnya sendiri, kegaiban atau kekeramatan Timur, bilamana anda suka.
Semuanya itu sebenarnya merupakan asal mula dari kesengsaraan dan penyiksaan
mematikan semangat kerja dalam masyarakat yang tak layak bagi pergaulan
manusia. Manusia haruslah berdaya, mencoba berjuang, kalah atau menang dalam
ikhtiarnya itu. Sebab, inilah yang dinamakan hidup! Karena itu, hapuslah segala
macam kepuasan yang menyuburkan semangat budak dan buanglah kesalahan kosong
sebab ini adalah kesesatan pikiran semata.
Manusia mesti mematahkan semua yang
merintangi kemerdekaannya. Ia harus merdeka! Sebuah bangsa pun mesti merdeka
berpikir dan berikhtiar. Jadi ia mesti berdiri atau berubah dengan pikiran dan
daya upaya yang sesuai dengan kecakapan, perasaan dan kemauannya. Tiap-tiap manusia
atau bangsa harus mempergunakan tenaganya buat memajukan kebudayaan manusia
umum. Jika tidak, ia tak layak menjadi seorang manusia atau bangsa dan pada
hakikatnya tak berbeda sedikit jua dengan seekor binatang.
Tetapi kamu orang Indonesia yang 55,000,000
tak kan mungkin merdeka selama kamu belum menghapuskan segala "kotoran
kesaktian" itu dari kepalamu, selama kamu masih memuja kebudayaan kuno
yang penuh dengan kepasifan, membatu, dan selama kamu bersemangat budak belia.
Tenaga ekonomi dan sosial yang ada pada waktu ini, harus kamu persatukan untuk
menentang imperialisme Barat yang sedang terpecah-pecah itu, dengan senjata
semangat revolusioner-proletaris, yaitu dialektis materialisme. Kamu tak boleh
kalah oleh orang Barat dalam hal pemikiran, penyelidikan, kejujuran,
kegembiraan, kerelaan dalam segala rupa pengorbanan. Juga kamu tidak boleh
dikalahkan mereka dalam perjuangan sosial. Akuilah dengan tulus, bahwa kamu
sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang
Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka mengikuti kemauan
alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat.
Sebelum bangsa Indonesia mengerti dan
mempergunakan segala kepandaian dan pengetahuan Barat, belumlah ia tamat dari sekolah
Barat. Karena itu, janganlah menjatuhkan diri dalam kesesatan dengan mengira
bahwa kebudayaan Timur yang dulu atau sekarang lebih tinggi dari kebudayaan
Barat sekarang. Ini boleh kamu katakan, bilamana kamu sudah melebihi
pengetahuan, kecakapan dan cara berpikir orang Barat. Sekurang-kurangnya
masyarakat kamu sudah mengeluarkan orang yang lebih dari seorang dari Newton,
Marx dan Lenin, barulah kamu boleh bangga.
Pada waktu ini sungguh sia-sia dan tak
layak bagi kamu mengeluarkan perkataan sudah "lebih pintar" dan tak
perlu belajar lagi, sebab banyak sekali yang belum kamu ketahui. Pun jika
perkataan itu keluar dari seorang bekas murid yang melupakan ajaran gurunya.
Kamu belum boleh membanggakan kelebihanmu karena kamu belum layak jadi seorang
murid, seperti terbukti dengan kekolotan dan akar-akar takhayul yang masih
berbelit-belit dalam kepalamu. Bila sekalian keruwetan itu sudah lenyap dari
kepalamu, barulah kamu dianggap orang sebagai murid, dan mulailah mempergunakan
pikiran "baru" dengan sempurna.
Jadi, janganlah bimbang merampas
kemerdekaan bila kamu ingin jadi seorang murid Barat. Juga jangan dilupakan
bahwa kamu belum seorang murid, bahkan belum seorang manusia, bila kamu tak
ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri! Bagi bangsa Indonesia, manusia tiada
harapan akan memperoleh kemajuan bila berada di bawah tumit imperialisme
Belanda. Bila seseorang ingin menaiki tangga sosial dan kebudayaan, haruslah ia
merdeka lebih dulu. Adapun paham tentang kemerdekaan, di Baratlah dilahirkan
dan dipergunakan.
Seseorang yang ingin menjadi murid Barat
atau manusia, hendaklah merdeka dengan mernakai senjata Barat yang rasional.
Apabila sudah dapat memakainya, barulah ia dapat menciptakan sebuah pergaulan
hidup yang baru dan rasional.
Kemudian kecakapan dan kemauan menurut
alam dapat tumbuh, dan dengan itu pula kekayaan tanah Indonesia yang tak
terkira itu dapat diusahakan dan dipergunakan buat keluhuran bangsa Indonesia
yang telah tertindas dan merana sekian lama di bawah tapak kaki Belanda.
Karena itu, wahai kaum revolusioner,
siapkanlah barisanmu dengan selekas-lekasnya! Gabungkanlah buruh dan tani yang
berjuta-juta, serta penduduk kota dan kaum terpelajar di dalam satu partai
massa proletar.
Tunjukkan kepada tiap-tiap orang Indonesia
yang cinta akan kemerdekaan tentang arti kemerdekaan Indonesia dalam hal materi
dan ide. Panggil dan himpunkanlah orang-orang yang berjuta-juta dari kota dan
desa, pantai dan gunung, ke bawah panji revolusioner. Bimbingkanlah tangan si
pembanting tulang dan budak belian itu hari ini dan besok; bawalah mereka
menerjang benteng musuh yang rapi itu! Di sanalah tempatmu pemimpin-pemimpin
revolusioner! Di muka barisan laskar itulah tempatmu berdiri dan kerahkanlah
teman sejawatmu menerjang musuh; inilah kewajiban seorang yang berhati singa!
Dirikanlah di tengah-tengah laskarmu itu satu pusat pimpinan, tempat
menjatuhkan suatu perintah kepada mereka semua yang haus serta lapar itu, dan
pasti kata-katamu akan didengar dan diturut mereka dengan bersungguh hati.
Kamu, ahli pidato pahlawan Homerus modern,
berserulah di tengah-tengah massa yang tak sabar menanti-nantikan kedatanganmu
dengan tepuk sorak dan kegembiraan. Dan
dengan pidatomu itu, tegakkanlah mereka yang lemah, bukakan mata yang buta,
korek kuping yang tuli, bangunkan yang tidur, suruh berdiri yang duduk dan
suruh berjalan yang berdiri; itulah kewajiban seorang yang tahu akan kewajiban
seorang putera tumpah darahnya. Di situlah tempatmu berdiri dan berdiri, di
situ sampai nyawamu dicabut oleh peluru atau pedang musuh yang bengis keji dan
hina itu. Itu kewajibanmu!
Kamu pahlawan dari angkatan revolusioner!
Tuntunlah massa si lapar, si miskin, si hina, si melarat, si haus itu menempuh
barisan musuh dan robohkanlah bentengnya itu, cabut nyawanya, patahkan
tulangnya, tanamkan tiang benderamu di atas bentengnya itu. janganlah kamu
biarkan bendera itu diturunkan atau ditukar oleh siapapun. Lindungi bendera itu
dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu,
seorang putera Tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah.
Biarlah yang tersebut di atas itu
senantiasa menjadi kenang-kenangan bagi kita semua. Bersama massa, kita
berderap menuntut hak dan kemerdekaan.
TAN MALAKA (1926) – BAB XI Aksi Massa
FEDERASI REPUBLIK INDONESIA
Meskipun atas kehendak
kita sendiri, kita tidak akan membatasi aksi kita "hanya" pada
kemerdekaan bangsa Indonesia yang terhindar oleh imperialisme Belanda.
Pembatasan seperti itu akan segera menyempitkan kita di dalam arti ekonomi,
strategi dan politik.
Kekuasaan atas Semenanjung Tanah Melayu
dengan pusat armada Singapura di dalam tangan imperialisme Inggris bagi kita
sebagai satu "strategisch Umfasung" senantiasa memaksa kita
menjauhi medan perjuangan. Umfasung ini dilengkapi dengan Australia putih
yang anti kulit berwarna di sebelah selatan.
Dalam arti ekonomi, semenanjung bagi kita
adalah sangat penting sebab negeri itu sudah menjadi pasar terbesar bagi
berbagai macam hasil bumi Indonesia; tambahan pula, banyak hubungannya dengan
seluruhnya. Kedudukan kita di antara Malaya dengan Australia, dan kapital
Inggris yang sangat besar di Indonesia, membesarkan dan mengekalkan perhatian
politik imperialisme Inggris atas segala kejadian di Indonesia. Kita tak akan
dapat merampas kemerdekaan Indonesia
tanpa keributan, dan bila ribut, serdadu Inggris tentulah akan siap dengan
senapannya.
Tetapnya kedudukan Amerika di
Indonesia-Utara (Filipina) bagi kita lebih berbahaya daripada yang dapat diduga
oleh seorang Indonesia biasa. Strategi kita tetap terancam, baik dari utara
maupun dari selatan oleh imperialisme modern. Ekonomi Filipina yang
mengeluarkan hasil bumi seperti Indonesia-Selatan menjadi persaingan yang
hebat. Pendeknya, selama politik Indonesia masih terpecah-pecah jadi
beberapa bagian seperti sekarang (bagian Belanda, Inggris, Amerika), tak akan
dapat diadakan persatuan aksi ekonomi, seperti menetapkan harga maksimum hasil
bumi dari negeri-negeri tropik ini di pasar-pasar dunia. Kemerdekaan kita, bagi
Paman Sam yang mungkin sekali berniat untuk selama-Iamanya duduk di Filipina,
bukanlah satu soal "filsafat" politik saja.
Indonesia merdeka yang sekarang meringkuk
di bawah imperialisme Belanda akan dihormati oleh bangsa Indonesia-Utara dengan
gembira dan akan menyebabkan timbulnya agitasi baru untuk kemerdekaan yang
seluas-luasnya bagi mereka. Filipina dalam genggaman Jepang tidak bagus bagi
kita.
Sebaliknya, lambat laun ia berarti
"penaklukan kita bersama" kepada kawanan perampok Asiria modern. Satu
pusat persatuan antara seluruh bangsa Indonesia,
yakni Indonesia
kita. Semenanjung dan Filipina — tak usah dibicarakan dulu Kepulauan Oceania
dan Madagaskar yang jumlahnya tidak sedikit — adalah sine qua non,
sarat untuk merampas dan menjaga kebebasan kita. Celaka sungguh, bangsa
Indonesia di Semenanjung Malaka tak dapat mempertahankan diri dari kebanjiran
bangsa India dan Tiongkok yang terus mengalir ke sana. Perniagaan industri
boleh dikatakan semuanya ada di tangan asing. Bumiputra di kota-kota pesisir
senantiasa didesak ke pinggir kota, dan yang tinggal di darat makin hari makin
jauh menyingkir ke puncak-puncak gunung.
Pabrik-pabrik kereta api, kantor-kantor
gubernemen dan perniagaan sama sekali ada di tangan bangsa asing. Orang
perantauan dari Jawa, Sumatera, Borneo dan Sulawesi terlampau sedikit dan
terlampau lemah kekuatannya untuk mengadakan perjuangan ekonomi melawan bangsa
Benua Asia yang biasanya pandai bekerja, hidup sederhana dan kompak. Proses
pendesakan bangsa Indonesia dalam hal kediaman, ekonomi, politik dan negeri
menyebabkan lahirnya sebuah pergerakan baru di sana. Satu perkumpulan
orang-orang Indonesia yang bernama "Kesatuan-Melayu" menguntungkan
dan mesti kita perhatikan yang segala daya dari orang Indonesia di Semenanjung
untuk pertahanan dan politik. Meskipun masih suram dalam perkataan dan
ragu-ragu dalam aksi, sebuah badan politik seperti itu haruslah dianggap
sebagai sesuatu yang menguntungkan dan mesti kita perhatikan dengan perhatian
yang sepenuh-penuhnya. Segenap daya upaya mengembang dan menciptakan suatu
Persatuan Indonesia Raya di seluruh Kepulauan lndonesia "mesti dan
perlu" ada dan didirikan. Tambahan lagi, boleh diharapkan bahwa besok atau
lusa bangsa Indonesia-Semenanjung akan berikhtiar melahirkan satu pergerakan yang
maksudnya akan memindahkan bangsa Indonesia-Selatan ke sana. Dengan jalan
serupa itu, dapatlah dibatasinya proses pendesakan itu dan diciptakannya satu
dasar tempat Indonesia merdeka "bersandar" dan akhirnya akan
mewujudkan Kemerdekaan Semesta-Indonesia.
Filipino yang terletak di antara Sciylla,
Amerika dan Charyb di Jepang, strategis, "sepenting-pentingnya di
Pasifik" bagi 12.000.000 orang Indonesia di sana sungguh menjadi satu soal
yang memutuskan harapan untuk merebut kemerdekaan nasional. Kedudukan Filipina
terlalu penting, sedangkan jumlah penduduknya terlalu sedikit untuk dapat
mengusir musuh selama-lamanya. Karena itu, memang sudah pada tempatnya jika
mereka merasa sangat bersyukur oleh imigrasi dari Indonesia-Selatan ke sana
sebab para imigran itu dalam sedikit waktu saja dididik bergaul niscaya akan
jadi satulah dengan mereka.
Sebagai bangsa satu keturunan, Filipina
dengan Indonesia Selatan tentulah tidak akan berselisih rupa, muka, hidung,
percakapan, kesukaan dan kemauannya bekerja, juga mempunyai perhubungan bahasa
yang tak dapat disangka.[1]
Imigrasi dari Indonesia-Selatan
sekali-kali bukanlah akan berarti "penjajahan" atas bangsa Filipina,
baik dalam hal ekonomi, kebudayaan, politik atau apa pun juga. Sebaliknya,
imigrasi itu berarti menguatkan bangsa itu.
Hanya saja imigrasi tentu tidak akan
diizinkan oleh imperialisme Belanda. Pergaulan antara bangsa Indonesia-Selatan
yang berabad-abad lamanya dijajah dan diabui matanya dengan bangsa
Indonesia-Utara yang mempunyai lebih banyak kemerdekaan dalam perekonomian
politik dan kebudayaan, bukankah sebentar saja akan membukakan mata mereka dan
membangunkan semangat revolusioner? Meskipun bangsa Filipina — berhubung dengan
pertimbangan ekonominya (tingkat penghidupan yang lebih tinggi) — menentang
imigrasi kaum buruh dari Benua Timur tetapi mereka setuju dengan imigrasi dari
Indonesia-Selatan biarpun besar jumlahnya. Bangsa Filipina sangat sulit
memungkiri riwayatnya sendiri sebab mereka pun adalah bangsa Indonesia-Selatan;
Jawa, Sumatera, Semenanjung dan lain-lain juga pindah ke sana.
Kejadian ini bagi kita sekarang dan
seterusnya sangat penting karena hal itu adalah salah satu sendi persatuan dan
kerja pertama di masa yang akan datang. Selain itu, tidak kecil pula artinya
politik Filipina yang bekerja bersama dengan kita. Kebanyakan pemimpin politik
yang besar pengaruhnya pernah berkata kepada kita bahwa mereka sangat
menanti-nantikan "All Indonesian Conference" yang pertama.
Tetapi sayang kita sekarang tidak sempat. Sesungguhnya inilah waktu yang baik
untuk meletakkan batu pertama di atas gunung "Persatuan seluruh bangsa
Indonesia".
Marilah kita mulai, dari menit ini, dengan
sungguh-sungguh dan gembira bekerja untuk menjadikan sebagai tujuan kita yang
penghabisan: pendirian "Federasi Republik Indonesia" (FRI) di dalam
arti yang sebenarnya adalah persatuan dari 100,000,000 manusia yang tertindas
dan mendiami pusat strategi dan perhubungan seluruh Benua Asia dan samuderanya.
Selain itu, ia berarti telah memusatkan semua hasil bumi negeri-negeri panas;
dan bersamaan dengan itu, pembangunan kebudayaan baru, yakni kebangunan satu
bangsa dan kekuasaan baru di Timur. Oleh karena itu, ia akan menjadi pokok
semangat baru yang tak tertahan-tahan bagi bangsa Asia yang jumlahnya lebih
dari 1,000,000,000 dan haus akan kemerdekaan; dan ia berarti pula kerugian yang
tak dapat diperbaiki oleh penjajahan putih.
Bangsa Indonesia-Selatan yang menghendaki
kemerdekaan pasti mengerti benar tugas dan akibat dari perbuatan serta
kemenangannya. Mulai sekarang ia harus menumbuhkan semangat juang terhadap
imperialisme Barat, baik dalam politik perdagangan ataupun militer. Jangan
sekali-kali kita mundur atau meninggalkan perjalanan yang dicita-citakan.
Singsingkanlah lengan baju dengan segera
buat menghidupkan serta menyatukan semua kekuatan nasional; seterusnya,
ciptakan satu pertalian dengan bangsa Indonesia yang lain, yang anti-imperialis
Barat atau Timur. Akan tetapi, jangan
kita menggantungkan diri semata-mata kepada pertolongan luar negeri. Hendaknya
kita berkeyakinan kepada kekuatan sendiri dari awal sampai akhir.
Sebelum bangsa Spanyol datang di Filipina,
bahasa Melayu menjadi bahasa politik yang resmi di seluruh Filipina, menjadi
lingua franca antar pulau yang berjumlah tak kurang dari dua ribu buah. Akan
tetapi, politik devide et impera bangsa Spanyol membunuh bahasa itu. Selain
itu, karena "Utusan Tuhan" itu mengembangkan segenap dialek yang ada
di tiap-tiap pulau-pulau dan daerah di Filipina, dan mereka juga menghapuskan
bahasa Melayu, maka lenyaplah bahasa politik yang resmi tadi. Setelah bahasa
pergaulan itu mati maka lambat laun mati pula rasa persatuan di antara penduduk
sehingga akhirnya Spanyol dapat mengadu domba mereka. Itulah sebabnya maka
hingga kini sangat susah untuk membangun persatuan nasional.
Subscribe to:
Posts (Atom)

